Aroma Gurih Surabi Pandeglang, Kuliner Sederhana Pemikat Hati Pelanggan

Kehangatan proses pembuatan kue surabi di rumah Mumun Sorabi. Senin (14/9/2026). (Foto: Istimewa). 

 

PANDEGLANG, BANTEN — Suara kayu bakar yang gemeretak di atas tungku dan kehangatan adonan santan yang dibakar perlahan menjadi pemandangan akrab di salah satu sudut Pandeglang. Kuliner tradisional surabi khas daerah ini tak pernah gagal menarik perhatian warga sekitar yang ingin menikmati sajian hangat nan gurih.

Pada Senin (14/9/2026), antrean kecil tampak mengular di sekitar tungku pembuatan surabi, milik Bu Mumun yang berada di Kp. Cirangiang, Kel. Majasari, Kec. Majasari, Pandeglang.

Pembeli dengan sabar menanti gumpalan adonan putih yang dipanggang di atas cetakan tanah liat hingga matang dan siap disajikan di atas wadah bambu beralas daun pisang.

Rohman, salah seorang pelanggan setia kuliner ini, mengaku selalu menyempatkan diri untuk membeli surabi hangat di kala waktu luangnya.

Menurutnya, cita rasa otentik yang dihasilkan dari pemanggangan tradisional menggunakan kayu bakar menjadi daya tarik utama yang sulit ditemukan pada olahan modern.

​”Rasa gurih dari santannya pas banget, apalagi dimakan pas masih hangat-hangatnya dari tungku. Aromanya khas karena dimasak pakai kayu bakar dan wadah tanah liat,” tutur Rohman saat ditemui sambil menunggu pesanannya siap.

Bagi pelanggan seperti Rohman, menikmati se porsi surabi panas bukan sekadar urusan mengganjal perut, melainkan momen nostalgia akan kesederhanaan cita rasa lokal Pandeglang yang terus terjaga keasliannya dari waktu ke waktu. (Red).